Natalie

Sabtu, 10 Maret 2012

Sungai Air Tawar Di Bawah Laut

Ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, Mr.Jacques Yves Costeau , seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis, menemukan sebuah sungai air tawar-yang rasanya tetap segar karena tidak bercampur ataupun melebur dengan air laut di sekitarnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membuat Mr. Costeau terheran-heran. Dia ingin mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah lautan. Ia bahkan sempat berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khalayan sewaktu menyelam. Namun, seiring perjalanan waktu, dia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.


 Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu. Sang profesor muslim pun teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez .

Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.." Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakanlah surat Al Furqan ayat 53 tersebut di atas.

Diungkapkan pula, dalam beberapa tafsir kitab, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan". Pasalnya, di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

 Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Berdasarkan pemikirannya: Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Artinya, mukjizat ini telah diberitakan sejak 14 abad yang silam dan dibuktikan pada abad 20. Karena itu, Mr. Costeau pun akhirnya berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Keyakinan ini pulalah yang akhirnya membuat orang tua berambut putih-yang sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia ini-menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.


sumber : http://www.jongjava.com/web/fenomena/1159 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar