Berapa kali Anda bertekad bangun lebih pagi tapi tak pernah bisa menghindari dari godaan tombol "Snooze" di jam alarm?
Niat
saja tak cukup untuk membuat angan-angan bangun pagi jadi kenyataan.
Kita juga perlu menyertainya dengan sejumlah usaha yang bisa membuat
kita mau tak mau harus bangun juga.
Berikut beberapa cara yang mungkin bisa membantu.
1. Tidur efektif
Semua
juga tahu kalau ingin bangun lebih pagi kita sebaiknya tidur lebih
awal. Tapi percuma saja tidur selama delapan jam jika tidur kita tidak
efektif. Jika posisi tidur tak nyaman, bantal terlalu tinggi, atau suhu
kamar terlalu dingin, kita akan terbangun berkali-kali di tengah malam,
dan tubuh pun merasa kita belum mendapat cukup istirahat.
2. Hindari kopi, red wine, dan cokelat sebelum tidur
Penelitian
menunjukkan tiga jenis makanan dan minuman ini adalah yang paling
berpotensi mengganggu tidur. Mengonsumsinya di malam hari bisa membuat
perut Anda bergejolak di malam hari dan tidur pun tak nyaman.
3. Buka tirai jendela kamar
Begitu matahari terbit, sinarnya akan masuk ke kamar dan membantu Anda terbangun.
4. Geser rutinitas Anda jadi lebih pagi
Jika
biasanya Anda memulai aktivitas sehari-hari jam 8 pagi, tambahkan
beberapa aktivitas tambahan yang dilakukan di jam 7 pagi. Misalnya
jogging, berenang di kolam belakang kompleks, memasak sarapan sendiri,
menulis untuk blog, atau apa pun aktivitas yang Anda senangi. Lakukan
secara rutin setiap hari hingga jadi bagian gaya hidup Anda.
5. Gunakan 2 alarm
Anda
biasa menyimpan jam alarm (atau menggunakan alarm ponsel) di samping
tempat tidur? Silakan. Tapi pasang juga satu alarm lain, kalau bisa yang
bunyinya lebih kencang, di tempat yang berjarak minimal 5 langkah dari
tempat tidur. Mau tak mau Anda harus bangun untuk mematikannya. Tapi
setelah itu jangan tidur lagi, ya.
6. Simpan segelas air di samping tempat tidur
Begitu
alarm berbunyi, duduklah di tempat tidur dan minum segelas air yang
sudah disediakan. Sampai habis. Ini berguna untuk membuat tubuh Anda
siap beraktivitas dan tak ingin kembali tidur.
7. "Jump out of bed"
Istilah
dalam bahasa Inggris ini bisa diartikan secara harfiah. Setelah
mematikan alarm, langsung bangkit dan "melompat" turun, lalu jauhi
tempat tidur.
8. Pikirkan hal menarik yang akan terjadi hari ini
Sebelum
memutuskan untuk tidur lagi, pikirkan rencana kegiatan yang akan Anda
jalani hari ini. Jika Anda bangun lebih pagi, tentunya akan ada lebih
banyak waktu untuk bersiap-siap, memilih busana terbaik, menata rambut,
dan berdandan dengan lebih maksimal. Menyenangkan, bukan?
9. Jadikan kebiasaan
Oke,
Anda sudah berhasil bangun lebih pagi dari Senin hingga Jumat. Weekend
bisa bangun jam 10 lagi, dong? Jangan salah. Tubuh bekerja menyesuaikan
dengan jadwal yang sudah jadi kebiasaan. Jika Anda sudah membiasakan
diri selama seminggu untuk bangun pagi, seterusnya tubuh Anda akan
terbangun sendiri di jam yang sama. Namun jika rutinitas itu dirusak
(tiba-tiba Anda kembali bangun siang selama 3 hari), tubuh pun akan
mengikuti jadwal yang baru.
10. Pikirkan risikonya
Setiap
Anda berpikir, "Tidur lagi deh, 15 menit lagi," ingatlah bahwa
rata-rata manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur. Jadi jika
Anda diberi usia hingga 70 tahun, Anda akan menghabiskan lebih dari 20
tahunnya untuk tidur. Jadi, lupakan tidur 15 menit lagi. Anda masih
punya banyak waktu untuk tidur besok-besok.
Natalie
Minggu, 11 Maret 2012
Penyebab Obesitas pada Anak Indonesia
Masalah kegemukan atau obesitas merupakan suatu masalah
yang cukup merisaukan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dengan
melihat fenomena yang terjadi sekarang, maka berlebihan jika menyebut
obesitas sebuah epidemik yang perlu diwaspadai semua orang.
Indonesia sebagai negara berkembang kini dihadapkan pada persoalan beban ganda (double burden), dimana satu sisi masalah anak kurang nutrisi masih banyak terjadi, namun di sisi lain jumlah anak dengan obesitas juga kian meningkat.
Masalah kegemukan bisa terjadi pada siapa saja. Menurut Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA (K) selaku spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), obesitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik dan lingkungan.
1. Genetik
Kegemukan bisa diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya dalam sebuah keluarga. Tak jarang kita sering melihat orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula.
"Anak-anak yang menderita obesitas biasanya memiliki orangtua yang menderita obesitas pula. Jika salah satu orangtua menderita obesitas, maka anak memiliki risiko 40 persen menderita obesitas. Sementara jika kedua orangtuanya menderita obesitas, maka resikonya meningkat menjadi 70 persen," papar Dr. Damayanti dalam acara 'Nutritalk Sari Husada', Jumat (9/3).
Dr. Damayanti menambahkan bahwa anak-anak yang menderita obesitas rentan mengalami masalah psikososial. Sekitar 27,7 persen anak obesitas memiliki masalah emosional dan perilaku.
2. Faktor Lingkungan
Jika genetik hanya memegang 10 persen dari penyebab masalah obesitas secara global, maka faktor lingkungan justru memegang peranan yang cukup berarti, bahkan hingga 90 persen. Lingkungan di sini termasuk gaya hidup, pola makan, sikap, pengetahuan serta peningkatan pendapatan.
Sebuah penelitian terhadap tiga sekolah umum di Jakarta pada tahun 2002 menemukan sekitar 64 persen anak-anak sekolah memiliki lebih dari 120 persen lemak dan karbohidrat dalam tubuhnya. Hal ini disebabkan faktor lingkungan yang bisa memicu obesitas.
"Di sekolah, kebanyakan kantin menjual pizza, burger dan makanan lain, dimana mengandung hingga 50 persen lemak. Di rumah, karena orangtuanya sibuk malah jadi kebiasaan memesan melalui delivery service," papar Dr. Damayanti.
Tak hanya itu, tingkat perekonomian keluarga yang berkecukupan juga menjadi faktor penyebabnya. "Tiap akhir pekan atau libur sekolah mainnya ke mall dan makan di restoran siap saji. Terlebih lagi banyaknya promo di restoran, seperti paket hemat yang berhadiah makanan, justru membuat anak tergiur dan membuat berat badan anak naik," tambahnya.
Dr. Damayanti juga menyayangkan sikap orangtua yang overprotektif sehingga menjuruskan anak pada penurunan aktifitas fisik, seperti ke sekolah dengan diantar jemput naik kendaraan, padahal bisa jalan kaki atau naik sepeda.
Indonesia sebagai negara berkembang kini dihadapkan pada persoalan beban ganda (double burden), dimana satu sisi masalah anak kurang nutrisi masih banyak terjadi, namun di sisi lain jumlah anak dengan obesitas juga kian meningkat.
Masalah kegemukan bisa terjadi pada siapa saja. Menurut Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA (K) selaku spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), obesitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik dan lingkungan.
1. Genetik
Kegemukan bisa diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya dalam sebuah keluarga. Tak jarang kita sering melihat orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula.
"Anak-anak yang menderita obesitas biasanya memiliki orangtua yang menderita obesitas pula. Jika salah satu orangtua menderita obesitas, maka anak memiliki risiko 40 persen menderita obesitas. Sementara jika kedua orangtuanya menderita obesitas, maka resikonya meningkat menjadi 70 persen," papar Dr. Damayanti dalam acara 'Nutritalk Sari Husada', Jumat (9/3).
Dr. Damayanti menambahkan bahwa anak-anak yang menderita obesitas rentan mengalami masalah psikososial. Sekitar 27,7 persen anak obesitas memiliki masalah emosional dan perilaku.
2. Faktor Lingkungan
Jika genetik hanya memegang 10 persen dari penyebab masalah obesitas secara global, maka faktor lingkungan justru memegang peranan yang cukup berarti, bahkan hingga 90 persen. Lingkungan di sini termasuk gaya hidup, pola makan, sikap, pengetahuan serta peningkatan pendapatan.
Sebuah penelitian terhadap tiga sekolah umum di Jakarta pada tahun 2002 menemukan sekitar 64 persen anak-anak sekolah memiliki lebih dari 120 persen lemak dan karbohidrat dalam tubuhnya. Hal ini disebabkan faktor lingkungan yang bisa memicu obesitas.
"Di sekolah, kebanyakan kantin menjual pizza, burger dan makanan lain, dimana mengandung hingga 50 persen lemak. Di rumah, karena orangtuanya sibuk malah jadi kebiasaan memesan melalui delivery service," papar Dr. Damayanti.
Tak hanya itu, tingkat perekonomian keluarga yang berkecukupan juga menjadi faktor penyebabnya. "Tiap akhir pekan atau libur sekolah mainnya ke mall dan makan di restoran siap saji. Terlebih lagi banyaknya promo di restoran, seperti paket hemat yang berhadiah makanan, justru membuat anak tergiur dan membuat berat badan anak naik," tambahnya.
Dr. Damayanti juga menyayangkan sikap orangtua yang overprotektif sehingga menjuruskan anak pada penurunan aktifitas fisik, seperti ke sekolah dengan diantar jemput naik kendaraan, padahal bisa jalan kaki atau naik sepeda.
Sabtu, 10 Maret 2012
Sungai Air Tawar Di Bawah Laut
Ketika
sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, Mr.Jacques Yves Costeau ,
seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis,
menemukan sebuah sungai air tawar-yang rasanya tetap segar karena tidak
bercampur ataupun melebur dengan air laut di sekitarnya, seolah-olah ada
dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat Mr. Costeau terheran-heran. Dia ingin mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah lautan. Ia bahkan sempat berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khalayan sewaktu menyelam. Namun, seiring perjalanan waktu, dia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu. Sang profesor muslim pun teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez .
Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.." Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakanlah surat Al Furqan ayat 53 tersebut di atas.
Diungkapkan pula, dalam beberapa tafsir kitab, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan". Pasalnya, di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Berdasarkan pemikirannya: Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Artinya, mukjizat ini telah diberitakan sejak 14 abad yang silam dan dibuktikan pada abad 20. Karena itu, Mr. Costeau pun akhirnya berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Keyakinan ini pulalah yang akhirnya membuat orang tua berambut putih-yang sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia ini-menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.
sumber : http://www.jongjava.com/web/fenomena/1159
Fenomena ganjil itu membuat Mr. Costeau terheran-heran. Dia ingin mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah lautan. Ia bahkan sempat berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khalayan sewaktu menyelam. Namun, seiring perjalanan waktu, dia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu. Sang profesor muslim pun teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez .
Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.." Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakanlah surat Al Furqan ayat 53 tersebut di atas.
Diungkapkan pula, dalam beberapa tafsir kitab, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan". Pasalnya, di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Berdasarkan pemikirannya: Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Artinya, mukjizat ini telah diberitakan sejak 14 abad yang silam dan dibuktikan pada abad 20. Karena itu, Mr. Costeau pun akhirnya berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Keyakinan ini pulalah yang akhirnya membuat orang tua berambut putih-yang sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia ini-menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.
sumber : http://www.jongjava.com/web/fenomena/1159
Langganan:
Postingan (Atom)



